Topiksatunews.com, Lutim — Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman meresmikan proyek strategis Matano Belt Road, jalan lingkar pesisir Danau Matano di Kabupaten Luwu Timur. Infrastruktur sepanjang 35 kilometer ini akan menghubungkan Desa Ussu, Kecamatan Malili, dengan Kecamatan Nuha, Sorowako, sekaligus membuka akses darat baru yang selama ini bergantung pada transportasi air.
Proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, dan PT Vale Indonesia Tbk. Pembangunan jalan lingkar ini diharapkan memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar mobilitas masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir Danau Matano.
Dalam sambutannya, Gubernur Andi Sudirman mengapresiasi langkah cepat PT Vale Indonesia yang telah memulai proyek tersebut sebelum akhir tahun. Menurutnya, kehadiran Matano Belt Road bukan hanya memperpendek jarak tempuh masyarakat, tetapi juga membuka peluang pengembangan pariwisata berbasis alam.
“Terima kasih kepada jajaran PT Vale, khususnya Chief Operations and Infrastructure Officer, Bapak Abu Ashar, yang merespons inisiatif ini dengan cepat. Ke depan, masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada kapal feri. Selain itu, panorama Danau Matano dapat dinikmati sebagai destinasi wisata unggulan,” ujarnya.
Gubernur juga menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang dengan meminta agar badan jalan diperlebar hingga dua kali lipat. Hal itu, kata dia, untuk memastikan kenyamanan pengguna jalan sekaligus menjaga estetika kawasan pesisir Danau Matano. Ia mencontohkan penataan kawasan wisata Pantai Losari di Makassar sebagai referensi pengembangan ruang publik yang tertib dan ramah lingkungan.
“Jangan sampai pembangunan justru merusak danau. Tidak boleh ada penebangan pohon disitu dan pembangunan rumah yang tidak teratur. Kawasan ini harus dijaga agar tetap indah,” tegasnya.
Saat melakukan pemantauan udara menggunakan helikopter, Andi Sudirman mengaku terkesan dengan kondisi alam Luwu Timur yang masih hijau dan memiliki potensi ekosistem yang kuat. Ia pun mendorong pembentukan Dewan Adat Penjaga Alam yang melibatkan unsur pemerintah, Forkopimda, tokoh adat, dan pemerhati lingkungan sebagai upaya menjaga keseimbangan pembangunan dan kelestarian alam.
Sementara itu, Wakil Bupati Luwu Timur Hj Puspawati Husler menyampaikan apresiasi atas komitmen Gubernur Sulsel dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah Luwu Raya, khususnya Luwu Timur. Menurutnya, Matano Belt Road memiliki nilai strategis karena menghubungkan Desa Ussu hingga Kecamatan Nuha dan mendekatkan akses ke perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah.
“Proyek ini tidak hanya mempermudah akses jalan, tetapi juga memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta membuka ruang pengembangan wisata alam yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia menilai pembangunan ruas jalan tersebut mencerminkan sinergi kuat antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, PT Vale Indonesia, serta dukungan masyarakat. Pemerintah daerah pun berharap partisipasi aktif warga di sepanjang jalur pembangunan agar proyek dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu.
Dari pihak swasta, Chief Operations and Infrastructure Officer (COIO) PT Vale Indonesia Tbk, Abu Ashar, menjelaskan bahwa pembangunan Matano Belt Road sepanjang 35 kilometer ini dibiayai melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan ditargetkan rampung dalam waktu dua tahun. Proyek akan dikerjakan dalam tiga tahap, dimulai pada akhir Desember 2025 hingga akhir 2026.
“Ini adalah bentuk komitmen PT Vale Indonesia dalam bersinergi dengan pemerintah untuk membuka akses yang lebih singkat dan efisien bagi masyarakat. Kami berharap dukungan penuh dari warga agar manfaat pembangunan ini benar-benar dirasakan, khususnya dalam meningkatkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Abu Ashar menegaskan, Matano Belt Road menjadi warisan pembangunan berkelanjutan PT Vale Indonesia di Luwu Timur. Selain membuka keterisolasian wilayah, proyek ini juga diharapkan menjadi simbol konektivitas, kemajuan infrastruktur, serta keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan di kawasan Danau Matano.












