Topiksatunews.com, Luwu Timur — Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD Luwu Timur dan PT Vale pada Jumat (26/9/2025) mendapat sorotan tajam dari Ketua LSM Gempa, Fadel Ebo. Menurutnya, forum yang seharusnya menjadi ruang akuntabilitas publik justru berubah menjadi “panggung komedi politik”.
“Bagaimana mungkin lembaga legislatif, yang katanya wakil rakyat, duduk manis di kursinya tapi mengaku tidak punya data? Itu bukan lagi ironi, tapi degradasi fungsi,” tegas Fadel.

Ia menyebut DPRD telah gagal menunjukkan peran pengawasan. “DPRD itu bukan tukang catat absen, bukan figuran dalam drama korporasi. Kalau datang tanpa data, berarti mereka sudah kalah sebelum bertanding. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya mereka wakili? Rakyat atau ketidaktahuan?” ujarnya.
Fadel menilai ada dua kemungkinan di balik absennya data dalam forum tersebut: PT Vale menutup-nutupi atau DPRD tidak punya daya menuntut. “Keduanya sama-sama memalukan. Rakyat menunggu DPRD jadi penjaga kepentingan publik, bukan penonton kebingungan,” timpal Fadel.
Lebih jauh, ia menyindir pernyataan DPRD yang mengaku tidak diberi data sebagai bentuk “impotensi politik”. “Bayangkan, pengawas justru mengaku tidak bisa mengawasi karena tidak diberi kacamata. Untuk apa duduk di kursi dewan kalau begitu?” tambahnya.
Menurut Fadel, alih-alih menjadi ruang klarifikasi dan penegasan, RDP justru menunjukkan DPRD tak berdaya di hadapan korporasi. “Kalau DPRD tidak mampu menagih data, maka jelas PT Vale yang mengendalikan panggung. DPRD hanya jadi staf humas yang sibuk bertanya tapi tidak berani menuntut jawaban. Ini bukan lagi kebocoran pipa, tapi kebocoran fungsi dewan,” tegasnya.
Ia juga mengkritik sikap sebagian anggota dewan yang menjadikan media sosial sebagai ajang pembelaan. “Mereka dengan bangganya memposting seolah sedang berperang demi rakyat. Padahal yang terlihat justru kelemahan dalam memahami diksi dan fungsinya,” ujarnya.
(Red/mul)












